Tanda Kemenangan Islam Dari Gua Hiro

Dakwah syariah dan Khilafah mengalami ujian. Itu adalah hal yang lumrah dan biasa. Karena _sunnatullah_ perjuangan adalah ujian. Disinilah penilaian Allah akan disematkan pada hambanya. Apakah dia lulus melewatinya dengan kesabaran, keikhlasan, keteguhan, kesungguhan dan keberanian ataukah sebaliknya. Jika lolos semua maka layak disebut sebagai _nasrullah_ (penolong agama Allah).

Yakinlah, bahwa setiap ujian berat adalah pertanda kemenangan dakwah dinampakkan di pelupuk mata. Walau hati ini gundah, miris dan sedih dalam menghadapi cobaan berat tersebut, jangan lupa, Allah telah menyiapkan skenario kemenangan yang indah.

Ingatlah siroh nabawiyah bagaimana kecemasan dan sikap Muhammad menerima wahyu pertama di gua Hiro serta prediksi apa yng diberikan oleh seorang syeh Waraqah yang beragama Nasrani.

Gua Hira

Setelah Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ menerima wahyu pertama kali di Gua Hira, Rasulullah kemudian pulang ke rumah dalam kondisi hati bergetar dan kedinginan. Lalu Rasul masuk ke rumah dan menuju ke kamar istri tercinta, Khadijah binti khuwailid sambil berkata, _”selimutilah aku, selimutilah aku.“_ Lalu Rasul diselimuti hingga lenyap lah rasa takut yang menderanya. Setelah itu Beliau berkata kepada Khadijah dan menceritakan segala kejadian yang telah menimpanya. _”Sungguh Aku merasa khawatir dengan kondisi ku sendiri.”_ Kemudian Khodijah menjawab, _”Tidak demi Allah, selamanya Allah tidak akan menghinakan mu karena sesungguhnya engkau senantiasa menyambung tali silaturahim dan selalu menolong orang yang lemah. Engkau juga memberikan kepada orang lain sesuatu yang tidak dimiliki orang lain kecuali engkau. Engkau selalu menjamu tamu dan engkau membantu orang-orang yang tertimpa musibah.“_

Setelah itu Khodijah beranjak meninggalkan nabi dan tak lama kemudian dia datang dengan membawa Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza, saudara sepupu Khadijah. Dia adalah salah seorang penganut agama Nasrani pada masa jahiliyah. Dia menulis kitab berbahasa ibrani. Dia menulis kitab Injil dengan bahasa ibrani beberapa ayat. Dia seorang syekh yang sudah lanjut usia dan matanya mengalami kebutaan.

Khadijah berkata padanya, _”Wahai putra Pamanku, dengarkanlah apa yang akan dikatakan oleh anak dari saudaramu.“_ Lalu Waraqah berkata padanya, _”Wahai putra saudaraku, mimpi apakah yang telah engkau alami?“_ Rasul pun kemudian menceritakan ikhwal mimpinya. Lalu Waraqah berkata, _”Dia adalah Jibril yang juga pernah dikirim oleh Allah kepada Musa. Seandainya saja aku masih muda dan perkasa. Seandainya saja aku masih hidup saat kaummu mengusirmu kelak,”

Rasulullah memotong dan berkata, _”Benarkah mereka akan mengusirku?“_ Waraqah menjawab, _”Ya. Tidak ada seorangpun yang datang dengan membawa (mengemban) seperti apa yang engkau bawa kecuali dia akan dimusuhi. Dan seandainya aku masih sempat bertemu dengan hari-harimu maka aku akan menolongmu dengan sekuat tenagaku.“_

Namun tak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terlambat turun. [*Lihat:* Hadits Riwayat Bukhari dalam kitab _Bad’u Al Wahyi_ nomor 3]

Sungguh, apa yang disampaikan oleh Waraqah benar adanya. Tatkala memulai aktivitas dakwah, mengajak masyarakt untuk memeluk agama Islam dan menjalankannya diseluruh aspek kehidupan, Rasulullah Muhammad SAW mendapat tantangan, intimidasi bahkan ancaman pembunuhan. Rasul di lempari kontoran onta ketika sholat di depan ka’bah. Bahkan kepala dan badannya tatkala sedang sujud di injak dengan kaki oleh Abu Jahal dengan ekspresi menghina dan dihinakan. Bukan hanya itu, bahkan Rasul beserta keluarga dan seluruh kabilahnya di boikot selama 3 tahun di _syi’ib Abu Thalib._ Selama waktu tersebut, Rasul bahkan sampai makan daun-daun kering hingga kulit kering untuk sekedar mengganjal perutnya yang kosong. Penderitaan yang amat teramat sangat berat. Ini semua, sekali lagi hanya karena Rasulullah menjalankan aktivitas utamanya, yakni _dakwah ila Islam,_ dakwah menyeru umat manusia untuk memeluk agama Islam.

Sungguh, kita adalah _hamiluddakwah,_ para pengemban dakwah Islam. Allah melabeli para pengemban dakwah Islam sebagai orang-orang pewaris kenabian. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
_”Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, Allah memperjalankannya di atas salah satu jalan surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim itu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan yang ada di dasar lautan.  Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang.  Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.“_ *(HR Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban).*

Dalam hadist yang lain, Rasul menegaskan:

«وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
_”Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka mewariskan ilmu. Siapa saja yang mengambilnya, berarti telah mengambil bagian yang banyak lagi sempurna.“_ *(HR Abu Dawud).*

Jadi, sesungguhnya kita ini adalah pewaris nabi. Karena kita telah menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan kita. Dan adalah hal _sunnatullah_ jika ketika kita berdakwah mendapat tantangan dan hambatan sebagaimana Rasulullah SAW. Penghadangan pada kegiatan-kegiatan untuk mengenalkan syariat Islam, simbol-simbol Islam seperti panji Rasul, dan kegiatan dakwah lainnya sejatinya hal yang lumrah. Pasti ada pihak-pihak yang tidak menginginkan dakwah mengembalikan syariat Islam terus berkembang dan menuai simpati masyarakat. Segala macam cara mereka lakukan untuk menghambat bahkan kalau bisa menggagalkan. Namun ingatlah dan bergembiralah, bahwa kemenangan akan menghampiri para pembela agamaNya. Allah SWT akan menjalankan makarNya untuk membela dan melindungi syariat Islam beserta para pengembannya.

Ambillah spirit Waraqah yang tahu betul akan janji Allah bagi semua hambanya yang ta’at. Waraqah yang beragama Nasrani _hanif_ ini tahu betul bahwa barang siapa yang mengemban dakwah Islam akan mendapat halangan dan rintangan. Hingga Beliau mengandai-andai, jika masih muda dan punya tenaga maka akan menjadi pembela agama Islam terdepan. Karena dia tahu, bahwa pahala besar dan surga telah menanti baginya. Dan yang lebih tegas lagi, ternyata tekanan dan intimidasi yang ada adalah justru tanda-tanda kemenangan. Itulah yang disampaikan oleh Waraqah kepada Rasulullah. Waraqah tahu bahwa ini semua telah dikabarkan dalam kitab injilnya yang asli.

Waraqah yang beragama nasrani saja siap membela bahkan berkorban untuk Islam. Bagaimana dengan kita? Yakinlah bahwa rintangan dan hambatan yang ada dalam mendakwahkan syariah Islam dan Khilafah adalah tanda-tanda akan kemenangan yang akan kita raih secara gilang gemilang. Terus bersemangatlah untuk berdakwah. Lebih kencanglah mendatangi seluruh masyarakat. Ajaklah mereka mengenal lebih dekat syariat Islam dan Khilafah sehingga mereka menjadi pembelanya. Ajaklah mereka untuk bersama-sama berjuang mendakwahkan ke yang lain lagi. Begitu seterusnya. Bersabar dan teguhlah ketika ada banyak ujian dari Allah. Menjadilah dan teruslah menjadi _harisan aminan lil Islam_, pengemban dakwah Islam yang terpercaya. Sebagaimana Rasul menjadi pendakwah Islam yang hebat pasca mendapat wahyu dari Gua Hiro. Beristiqomahlah menjalani lika-liku dakwah. InshaAllah, kemenangan Islam tidak lama lagi… _Aamiin._

Gus Uwik
Bogor, 2/4/2017

Mata Uang Rasulullah (Islam)

Salah satu benda sejarah yang membuat saya cukup terkesan lainnya, tatkala city tour di museum Turki Madinah adalah keberadaan koin Dinar Byzantium dan Dirham Sasanid. Koin dinar masih terlihat kuning keemasan, sebagaimana layaknya emas yang tidak akan berkarat oleh zaman. Sedangkan uang dirham sudah nampak kehitaman. Mungkin karena sudah terkena korosi.

Keterangan yang menjelaskan di bawah Dinar dan Dirham tersebut yang membuat saya semakian terperangah. Dalam keterangan tersebut menjelaskan Dinar Byzanthium yang digunakan di Madinah zaman Rasulullah. Sedangkan yang lain menjelaskan Koin Dinar dan Dirham Islam yang digunakan di Madinah selama pemerintahan Ummayyah, Abbasiyyah dan Fatimiyah. Subhanalloh… Keberadaan Dinar dan Dirham tersebut menjelaskan dengan jelas sudah sejak zaman Rasulullah sistem moneter (keuangan) di atur secara khusus oleh Islam.Continue reading

Sebenarnya, Boleh Gak Sih Menonton Film Porno?

Film porno adalah gambar bergerak yang bertujuan untuk membangkitkan nafsu seksual penontonnya yang umumnya menampilkan adegan aktivitas seksual. Film porno secara umum dibagi dua kategori, softcore dan hardcore. Softcore adalah yang tidak menampilkan adegan seksual secara vulgar (misal penetrasi), sedang hardcore menampilkan secara vulgar. Film porno dijualbelikan dan disewakan dalam bentuk DVD, dipertunjukkan lewat internet, atau saluran TV khusus, layanan bayar tiap nonton (pay-per-view) lewat kabel dan satelit, juga lewat bioskop dewasa. (en.wikipedia.org).Continue reading

Bolehkah anak yang belum disunat/dikhitan masuk masjid dan ikut solat dengan orang tuanya? Dan bagaimana bacaan Imam tatakala ada anak kecil?

Bolehkah anak yang belum disunat/dikhitan masuk masjid dan ikut solat dengan orang tuanya? Dan bagaimana anak-wudhubacaan Imam tatakala ada anak kecil?

_*Pertama:*_ Dibolehkan membawa anak kecil masuk ke dalam masjid, walaupun belum disunat.

_*Kedua:*_ Berikut hadits-hadits yang menunjukkan hukum di atas:

عن أبي قَتَادَةَ رضي الله عنه: بَيْنَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ جُلُوسٌ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْمِلُ أُمَامَةَ بِنْتَ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ وَأُمُّهَا زَيْنَبُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ صَبِيَّةٌ يَحْمِلُهَا عَلَى عَاتِقِهِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ عَلَى عَاتِقِهِ يَضَعُهَا إِذَا رَكَعَ وَيُعِيدُهَا إِذَا قَامَ حَتَّى قَضَى صَلَاتَهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِهَا [ أبو داود 783 و النسائي 704 و صححه الألباني ]

Abu Qotadah radhiallahu ‘anhu mengatakan: Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid, Rosulullah _shallallahu alaihi wasallam_ muncul ke arah kami sambil menggendong Umamah binti Abil Ash, -ibunya adalah Zainab binti Rosulullah _shallallahu alaihi wasallam_, ketika itu Umamah masih kecil (belum disapih)-, beliau menggendongnya di atas pundak, kemudian Rosulullah _shallallahu alaihi wasallam_ mengerjakan sholat, sedang Umamah masih di atas pundak beliau, apabila ruku’ beliau meletakkan Umamah, dan apabila berdiri beliau menggendongnya kembali, beliau melakukan yang demikian itu hingga selesai sholatnya.

عَن أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ مَعَ أُمِّهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَقْرَأُ بِالسُّورَةِ الْخَفِيفَةِ أَوْ بِالسُّورَةِ الْقَصِيرَةِ [ مسلم 722]

Anas radhiallahu ‘anhu mengatakan: Rosulullah _shallallahu alaihi wasallam_ pernah mendengar tangisan seorang anak kecil bersama ibunya, sedang beliau dalam keadaan sholat, karena itu beliau membaca surat yang ringan, atau surat yang pendek.Continue reading