Setelah selesai memandu jamaah untuk masuk ke Raudhoh dan ziyaroh ke makam Rasul dan sahabatnya, saya putuskan untuk kembali ke dalam masjid Nabawi. Sengaja mencari duduk di dekat Raudhoh yang lantainya agak tinggi sedikit jika dibandingkan dengan yang lain. Lantai yang di pagar kanan-kiri dan belakangnya itu, konon dipakai oleh _ahlu suffah_ tinggal. Merekalah orang-orang yang tidak punya rumah dan pekerjaan di tampung oleh Rasul. Negara menjamin seluruh kebutuhan mereka sehingga mereka mampu mencukupi sendiri.

Sambil bersandar di pagar, pandanganku tertuju ke arah makam Rasulullah. Tepat di depanku persis. Angan-anganku kemudian melayang membayangkan bagaimana dulu kehidupan Rasulullah. Bagaimana rumah Rasul dahulu. Dan bagaimana Rasul menjalani kehidupan sehari-harinya.tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o

Akupun teringat dengan sebuah riwayat yang menjelaskan rumah Rasul. Dalam kitab shohih _adabul mufrod_ karya Imam Bukhori menyebutkan bahwa Daud Bin Qais berkata:

“Saya melihat kamar Rasulullah saw atapnya terbuat dari pelepah kurma yang terbalut dengan serabut, saya perkirakan lebar rumah ini, kira kira 6 atau 7 hasta (1 hasta sama dengan 0,45 meter), saya mengukur luas rumah dari dalam 10 hasta, dan saya kira tingginya antara 7 dan 8, saya berdiri dipintu aisyah saya dapati kamar ini menghadap Maghrib (Marocco)”.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim dijelakan:

“Bahwa suatu hari sayyidina Umar bin Al Khattab pernah menemui baginda Nabi Muhammad SAW. Saat itu Beliau sedang berbaring di atas tikar kasar yang terbuat dari pelepah kurma. Dengan berbantalkan kulit kasar yang berisi serabut ijuk kurma. Melihat keadaan Nabi Muhammad yang seperti itu sayyidina Umar pun menangis”.

“Kemudian Nabi Muhammad SAW pun bertanya: Mengapa engkau menangis?”

Sayyidina Umar Radhiallahu’anhu menjawab: “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini membekas pada tubuhmu. Engkau adalah Rasulullah SAW, utusan Allah SWT. kekayaanmu hanya seperti ini. Sedangkan kisra dan raja-raja lainnya hidup bergelimangkan kemewahan”.

“Nabi Muhammad SAW menjawab: Apakah engkau tidak rela jika kemewahan itu untuk mereka di dunia dan untuk kita di akhirat nanti?”

Jawaban Nabi Muhammad SAW menjelaskan kesederhanaannya. Dan rumah yang berukuran panjang tidak lebih dari 5 meter, lebar hanya 3 meter, dengan tinggi atap sekitar 2.5 meter menjadi gambaran bahwa Nabi Muhammad SAW tidaklah hidup dalam kemewahan dunia.

Tepat di tahun terakhir kenabian, kabilah-kabilah arab berbondong-bondong menyatakan masuk islam.
Selain memang karena mereka melihat secara langsung keagungan Islam yang diterapkan diseluruh aspek kehidupan, berarti juga bahwa tugas kenabian sebentar lagi usai.

Menikmati masa-masa kemenangan adalah tabiat sebuah perjuangan. Tapi tidak bagi sosok yang mulia itu. Karena misi perjuangannya bukan untuk meraup harta dan kekayaan, bukan pula untuk mengejar jabatan. Bila Allah ridho, kalimat-Nya ditinggikan, syariat-Nya ditegakkan, maka itulah puncak pencapaian tertinggi.

Raga suci itu letih, peluh di dahinya sesekali mengucur. Itu semua terjadi sejak awal diutusnya Beliau menjadi Rasul. Semuanya dikorbankan. Waktu, tenaga, pikiran, harta bahkan nyawa sekalipun. Diatas tikar kasar raga itu terkulai. Berbulan-bulan tak ada api yang mengepul di rumahnya.
Kondisi itu tidak hanya terjadi sekali, bahkan berkali-kali semenjak beliau diutus menjadi nabi.

Abu Hurairah menuturkan terkait kondisi rumah Rasul, “Adakalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah Rasulullah tidak ada satupun lampu yang menyala, dapurnya pun tidak mengepul. Jika ada minyak, maka dijadikannya sebagai makanan. Sering beliau tidur malam sedang keluarganya bolik-balik di atas tempat pembaringan karena kelaparan, tidak ada makan malam. Makanan mereka biasanya hanya  roti yang terbuat dari syair yang kasar.” *(HR. Tarmidzi).*

Bunda Aisyah radhiallahu anha lebih lugas menuturkan, “Sering kali kami melewati masa hingga 40 hari, sedang di rumah kami tidak pernah ada lampu yang menyala dan dapur kami tidak mengepul. Maka orang yang mendengar bertanya, ‘Jadi apa yang kalian makan untuk bertahan hidup?’ Ibu kita menjawab, “Kurma dan air saja, itu pun jika dapat.” *(HR. Ahmad)*

Subhanalloh, sebuah kehidupan yang sangat berat dijalani oleh Rasul dan keluarganya. Tidaklah orang yang kuat lagi hebat yang bisa menjalani kehidupan yang serba terbatas tersebut. Apalagi ditambah dengan tugas nubuwah. Logika manapun akan sulit menerima kondisi tersebut. Dan tidak terbayang menjalaninya.

Saking beratnya kehidupan Rasul, sampai Rasul merasa lemas dalam menjalani sholat. Tapi Beliau pantang mengeluh lagi mundur. Semua itu dijalani dengan penuh ikhlas dan semata mengharap ridho Allah. Abu Hurairah berkata, “Aku pernah datang kepada Rasulullah ketika dia shalat sambil duduk, maka aku pun bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa aku melihatmu shalat sambil duduk, apakah engkau sakit?’ Jawab beliau, ‘Aku lapar, wahai Abu Hurairah.’ Mendengar jawaban beliau, aku terus menangis sedih melihat keadaan beliau. Beliau merasa kasihan melihatku menangis, lalu beliau berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, jangan menangis, karena beratnya penghisaban di hari kiamat nanti tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia ini.” *(HR. Muslim).*

MashaAllah…
Kami rindu padamu ya Rasul… ???

Bukan hanya itu saja, tekat baja Rasul untuk menahan lapar begitu luar biasa. Ibnu Bujair berkata, _“Pada suatu hari Rasulullah pernah merasa sangat lapar. Lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Betapa banyak orang yang memilih makanan yang lembut di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang pada hari kiamat! Dan betapa banyak orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat’.”_

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi, Ummul mukminin menuturkan, “Rasulullah tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut. Sebenarnya jika kita mau, kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar daripada dirinya sendiri.”

MashaAllah. Penjelasan-penjelasan dalam kisah-kisah diatas seolah-olah terlihat jelas dengan mata kepalaku sendiri. Tak kuasa, hati ini menjerit malu. Mata pun menangis sejadi-jadinya mengingat kekasih Allah, Muhammad Rasulullah.

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad. Wa’ala ali sayyidina Muhammad.  Kami rindu pada mu ya Rasul… ???

Ya Allah. Ampunkanlah kami. Kami masih tersibukkan dengan dunia, hingga melupakanMu. Hanya mengingatMu di saat-saat lima waktu saja. Itupun tidak khusu’. Alangkah kufurnya diri ini terhadap nikmat-Mu.
Entah berapa kali diri ini merasakan kenyang, sementara syukur jarang terucap dan ibadah tak kunjung meningkat. ???

Sahabat…
Sebelum mengeluhkan dapurmu yang kekurangan ini dan itu, maka ingatlah dapur Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam…
Ingatlah rasulullah yang tak pernah kenyang sejak diutus menjadi nabi hingga wafatnya. Sesekali bawalah imajinasimu mundur jauh ke masa-masa beliau hidup, lalu tanyakan pada dirimu, “Masikah pantas engkau mengeluhkan kondisi dapurmu yang serba kekurangan..?”

Sahabat, Rasulullah hidup seperti itu adalah pilihan hidup, bukan keterpaksaan. Sebab bila Beliau mau, maka gunung uhud akan dirubah menjadi emas untuknya, namun Beliau menolak.
Beliau menganggap kehidupan akhirat lebih baik daripada kehidupan dunia. Bukan tidak boleh mengejar dunia. Tapi yang penting adalah menjadikan dunia dalam genggama, bukan dikuasai oleh dunia. Dunia untuk jalan meraih ridho Allah. Bukan menjadi fitnah dan sumber petaka. Karena memang sesungguhnya dunia ada perhiasan cantik yang menggoda.

_Salam Ta’dzim_
_Napak Tilas Perjuangan Rasul dan Para Sahabatnya_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>