Salah satu benda sejarah yang membuat saya cukup terkesan lainnya, tatkala city tour di museum Turki Madinah adalah keberadaan koin Dinar Byzantium dan Dirham Sasanid. Koin dinar masih terlihat kuning keemasan, sebagaimana layaknya emas yang tidak akan berkarat oleh zaman. Sedangkan uang dirham sudah nampak kehitaman. Mungkin karena sudah terkena korosi.

Keterangan yang menjelaskan di bawah Dinar dan Dirham tersebut yang membuat saya semakian terperangah. Dalam keterangan tersebut menjelaskan Dinar Byzanthium yang digunakan di Madinah zaman Rasulullah. Sedangkan yang lain menjelaskan Koin Dinar dan Dirham Islam yang digunakan di Madinah selama pemerintahan Ummayyah, Abbasiyyah dan Fatimiyah. Subhanalloh… Keberadaan Dinar dan Dirham tersebut menjelaskan dengan jelas sudah sejak zaman Rasulullah sistem moneter (keuangan) di atur secara khusus oleh Islam.

Jujur, adanya koin emas (Dinar) dan perak (Dirham) di Museum Turki tersebut menjawab kebingunngan saya sejak lama. 2 tahun yang lalu, tatkala mengkaji kitab Al Amwal fi Daulah Khilafah sudah dijelaskan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya telah menetapkan sistem mata uang dinar dan dirham, berikut mata uangnya dan satuan-satuanya. Namun, waktu itu belum bisa membayangkan sama sekali, bagaimana realitas faktanya. Bagaimana bentuk/wujud uangnya dinar dan dirham tersebut.

Dalam kitab Al Amwal fi Daulah Khilafah tersebut menjelaskan secara detail mata uang di dalam Islam. Kitab tersebut menjelaskan bahwa orang-orang Arab sebelum Islam terutama Quraisy setelah melakukan perniagaan dengan tetangga-tetangga mereka dari berbagai tempat dan pelosok Negeri.

DInar-DirhamTatkala mereka kembali dari Syam mereka membawa Dinar emas Kaisar. Tatkala kembali dari Irak dan membawa dirham perak Kisra. Ketika mereka kembali dari Yaman mereka terkadang juga membawa dirham Hamiriyah, dan tatkala kembali dari Hijaz mereka membawa Dinar emas Hirakliy dan dirham perak Sasanid.

Akan tetapi penduduk Makkah tidak melakukan transaksi dengan menggunakan Dinar dan Dirham sebagai satuan melainkan dijadikan sebagai timbangan dengan lantakan emas atau perak. Dengan kata lain mereka menjadikannya sebagai benda atau alat tukar menggunakan emas dan perak yang tidak dicetak. Mereka belum sampai berfikir ke taraf uang cetak, bermacam-macamnya dirham dan berbeda-bedanya timbangan. Mereka menerima begitu saja berkurangnya nilai Dinar seiring makin banyaknya yang beredar.

Untuk menghindari penipuan mereka bersandar pada timbangan. Dan penduduk Makkah memiliki timbangan timbangan khusus yang biasa digunakan yaitu dengan rithl, uqiyah, nasy, nuwat, mitsqal, dirham, daniq, qirath dan habbah.

Setelah islam datang Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam menetapkan dengan taqrir (diamnya Rasul) penggunaan Dinar dan dirham tersebut dan menetapkannya sebagai mata uang. Rasulullah juga menetapkan timbangan mata uang Dinar dan dirham seperti yang telah berlangsung pada Quraisy.

Dari Thawus dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda:
Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah dan takaran maka takaran penduduk Madinah. (HR. Abu Daud)

Diriwayatkan oleh al-Baladzuriy dari Abdullah bin Tsa’labah bin Sha’ir:
Dinar Hirakliy dan dirham Persia biasa digunakan oleh penduduk Makkah pada masa jahiliyah. Akan tetapi mereka tidak menggunakan dalam jual beli, kecuali menjadikannya (timbangan) lantakan. Mereka sudah mengetahui timbangan mitsqal. Timbangannya adalah 22 qirath kurang (satu dirham) Kisra. Dan timbangan 10 dirham sama dengan 7 mitsqal. Satu rithl sama dengan 12 uqiyah, dan setiap satu uqiyah sama dengan 40 dirham. Dan Rasulullah SAW membiarkan hal itu. Begitu pula Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Dengan demikian kaum muslim telah menggunakan bentuk cetakan dan gambar dinar Irak Hirakliy dan dirham Kisra pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Khalifah Abu Bakar As Siddiq dan awal masa Khalifah Umar. Pada tahun ke 20 Hijriyah atau pada tahun ke-8 dari masa pemerintahan Khalifah Umar, Beliau mencetak dirham yang baru berdasarkan dirham sasanid bentuk dan timbangannya tetap mengacu pada dirham kisra, gambar dan tulisannya bermotif bahlawiyah atau Pahlevi. Hanya saja Beliau menambah tulisannya dengan menggunakan huruf Arab kufi misalnya Bismillah dan Bismillahi Robby. Kemudian kaum muslim tetap menggunakan uang dinar yang mengacu pada bentuk Dinar Bizantium dan dirham sasanid, hanya terdapat tambahan kata Islam dengan menggunakan huruf Arab. Keadaan ini berlangsung terus sampai masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Pada tahun 75 atau 76 Hijriah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan mencetak dirham yang berciri khas Islam yang mengandung teks teks Islam dengan menggunakan khot Arab Kufi, Dan bentuk sasanid ditinggalkan.

Alhamdulillah, apa yang dijelaskan dalam kitab Al Amwal tersebut akhirnya saya temukan faktanya. Jujur, saya baru dong bahwa islam mengatur sistem mata uang tatkala melihat dengan mata kepala sendiri wujud mata uang dinar dan dirham di museum Turki tersebut. Dan sekaligus menjawab keraguan saya dan mungkin juga keraguan sebagian umat Islam tentang adanya sistem mata uang dalam Islam. Ternyata syariat mata uang sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah. Sungguh, ini menjadi penyemangat saya bahwa Islam ternyata telah memiliki syariat yang jelas tentang bagaimana pengaturan sistem moneter/keuangan, yakni Dinar dan Dirham. Termasuk satuan dan bentuknya. Tinggal kini saatnya berjuangan bersama-sama meninggal sistem mata uang kertas yang ribawi menuju sistem mata uang Dinar dan Dirham dalam penerapan syariat Islam secara total dalam bingkai Negara. Wallahu’alam.

Salam Ta’dzim

Gus Uwik
Khadim SYIAR Travel
Napak Tilas Perjuangan Rasul dan Para Sahabatnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>